Alaqsha.or.id – Dalam menjalani kehidupan, tidak selalu kita menemui hal positif. Namun, tidak jarang hal negatif datang. Lantas, sebagai muslim bagaimana sikap kita?

Rasulullah shalallahualaihiwasalam telah menjawab hal ini 14 abad silam. Masa kecil manusia terpuji ini telah mengajarkan banyak hikmah atas pertanyaan diatas.

Diuraikan oleh Ustad DR. Agus Setiawan Lc, MA bahwa dibalik segenap peristiwa masa kanak-kanak Rasulullah, terdapat hikmah yang dalam. Uraian tersebut disampaikan dalam Kajian Sabtu Subuh di Masjid Al Aqsha deLatinos BSD bertarikh 14 Rabiul awal 1441 Hijriah

Rasulullah telah menjadi yatim piatu dalam usia yang sangat muda, yakni enam tahun. Namun, hikmahnya adalah Allah menyiapkan beliau menjadi pribadi yang agung karena akan mengemban amanah sebagai Rasul.

Setidaknya ada enam hikmah yang dapat dipetik dari kondisi masa kecil rasulullah. Pertama, Rasulullah tumbuh menjadi sosok yang sangat lembut perasaannya. Rasulullah menganjurkan untuk peduli pada anak yatim. Rasulullah bersabda: “Jika kamu ingin melembutkan hatimu maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR Ahmad II : 263). Sebuah pemberian sebelum bermanfaat bagi orang yang menerima, sudah bermanfaat bagi yang memberi. Yaitu Allah berikan manisnya iman di dalam hati orang yang memberi.

Kedua beliau menjadi sosok pribadi yang mandiri, terutam mandiri dalam hal ekonomi. Pada saat kecil Rasulullah mendapat upah dari pekerjaan menggembala kambing.

Ketiga, beliau menjadi sosok yang tawadhu. Ini tidak lepas dari pekerjaan menggembala kambing saat belia. Hikmah beliau menjadi penggembala kambing: belajar untuk mencari, belajar bagimana mengarahkan, belajar bagaimana mengawasi, belajar bagaimana melindungi, memiliki waktu merenung dan kontemplasi, terakhir belajar skill managerial dan leadership.

Hikmah berikutnya, yakni keempat, Rasulullah menjadi sosok yang memiliki sisi kewirausahaan atau enterpreneurship. Ini tidak lepas dari pengalaman beliau sudah ikut berdagang ke negeri Syams bersama pamannya.

Kelima, sebagai salah satu lelaki di Bani Hasyim, Rasulullah ikut serta dalam konflik besar kala itu. Yakni ikut terjun dalam peperangan, dan ini ternyata meningkatkan kemampuan militer Rasulullah pada usia muda. Saat berusia 15 tahun, Rasulullah sudah mengikuti perang Fijar.

Tidak hanya itu, masih terkait hikmah sebelumnya, perang Fijar juga mengajarkan pengalaman bernegoisasi serta mematuhi kesepakatan. Pada akhir perang Fijar Rasululah mengikuti kesepakatan Bani Qinanah dan sekutunya.

Rasulullah shalallahualaihiwasalam mengatakan, kelahiran beliau karena Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim yang meminta kepada Allah agar diberi keturunan yang sholih. Seperti yang diabadikan Allah pada Al Quran surat Ibrahim ayat 40.

Kabar tentang kelahiran Rasulullah pun sebenarnya telah dikabarkan oleh nabi sebelumnya. Nabi Isa Alaihisalam telah mengabarkan kepada kaumnya bahwa kelak akan diutus nabi terakhir. Seperti tercantum dalam surah Al Baqarah 146.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” (Qs 2:146).

Rasulullah lahir di hari Senin di bulan Rabiul’awal. Ulama berbeda pendapat mengenai tanggal kelahiran beliau. Namun jumhur ulama mengatakan beliau lahir tanggal 12 rabiul awal.

Rasulullah bersabda:

“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, hari aku diutus, dan hari diturunkannya al-Qur’an kepadaku.” (HR. Muslim)

Beliau wafat tanggal 12 Rabiul’awal dan Ulama sepakat memgenai tanggal ini. Hari Senin Rasulullah diangkat menjadi rasul. Rasulullah bersabda:

“Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

Kakek Rasulullah, Abdul Muthalib, yang memberi nama Rasulullah dengan nama Muhammad.  Alasannya karena beliau ingin Rasululah kelak menjadi anak yang terpuji. Selanjutnya Rasulullah diasuh oleh Halimah.

Ketika berusia empat tahun terjadi peristiwa yang luar biasa. Peristiwa yang tidak biasa ini membuat Halimah khawatir dan mengembalikan Rasulullah ke ibunya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radiallahuanhu:

Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW yang sedang bermain dengan anak-anak lainnya. Jibril membawa dan membuat beliau tidak sadarkan diri. Setelah itu, dia membelah dada beliau, mengeluarkan hatinya, lalu mengeluarkan segumpal darah darinya. Jibril berkata, “Ini adalah bagian setan darimu.” Kemudian dia meletakkannya di nampan dari emas, lalu membasuhnya dengan air zamzam. (HR. Muslim). (*)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here